5 Reaksi Kimia Ini Akan Terjadi Saat Kamu Rindu

Bantu kami membuat situs ini menjadi lebih baik.

Dengan menonaktifkan AdBlock atau aplikasi-aplikasi sejenis yang mampu memblokir iklan, kamu sudah membantu kami untuk tetap membuat konten-konten di website ini terus update.

Untuk selengkapnya, baca artikel kami berikut ini: Matikan AdBlock Kamu Untuk Fakta Unik Dunia

Kalian tentu pernah dong merasakan rindu atau kangen, biasanya seseorang akan merindukan orang-orang yang mereka sayangi karena lama tidak berjumpa atau karena suatu hal.

Rasa rindu bisa datang kepada siapa saja, apalagi pada orang yang sedang jatuh cinta. Biasanya, tidak ketemu sehari saja berasa seperti tidak ketemu selama satu tahun.

Tapi, tahukah kamu bahwa ketika kamu sedang merasakan rindu, ada reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh kamu. Seperti yang Fakta Unik Dunia lansir dari Merdeka.com ini, berikut 5 reaksi kimia yang terjadi saat kamu merasa rindu.

1. Mengapa rasanya campur aduk?

Hari ini kangennya biasa saja, besok benar-bener pengen ketemu, lusa kangen sampai mau nangis. Akrab dengan perasaan seperti ini? Bagi wanita, intensitas rasa kangen juga dipengaruhi oleh aktivitas hormon.

Menurut Gabrielle Lichterman dari Hormone Horoscope, pasang surutnya estrogen, testosteron, dan progesteron pada siklus bulanan wanita bisa mempengaruhi suasana hati, sensitivitas, dan tingkat ketergantungan kita pada seseorang. Hormon-hormon ini pula yang menjadi pendorong munculnya perasaan sentimental saat kita sedang merindukan seseorang.

2. Mengapa semakin lama semakin tak tertahankan?

Menurut Lichterman, biasanya wanita akan melewati fase berikut saat berjauhan dengan pasangan atau seseorang yang mereka sayangi. Pada minggu pertama atau hari-hari pertama menstruasi, wanita akan merindukan momen-momen menyenangkan bersama pasangan. Di minggu kedua, mereka akan mulai merindukan kedekatan fisik dengan pasangan, meskipun pada dasarnya mereka masih bisa menikmati perasaan independen karena leluasa melakukan apa saja tanpa harus mengkhawatirkan pasangan.

Pada minggu ketiga, wanita memasuki masa ovulasi dan naluri keibuan mereka mulai berbicara. Setiap wanita memiliki hasrat untuk nurturing (merawat) dan keinginan ini baru bisa terpuaskan dengan memperhatikan dan melakukan hal-hal kecil untuk orang yang disayangi. Pada minggu terakhir, keberadaannya di sekitar kita menjadi kebutuhan 'darurat' yang harus segera dipenuhi.

3. Mengapa rasanya begitu menyakitkan?

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jatuh cinta berhubungan dengan hormon dopamin. Hormon ini memiliki pengaruh kuat terhadap rasa sakit, bahagia, dan hasrat. Kedekatan fisik bersama orang yang disayangi akan membuat produksi dopamin memuncak, karena itulah otak merespon dengan menerjemahkan keberadaan orang yang disayangi sebagai sebuah reward.

Efek ketergantungan terhadap dopamin sama kuatnya dengan candu. Produksi dopamin juga mempengaruhi hormon serotonin yang mengendalikan tingkat stres, suasana hati, dan nafsu makan. Karena itulah, berjauhan dengan sosok yang kita sayangi terasa begitu berat dan menyakitkan.

4. Kenapa tak bisa digantikan yang lain?

Memang benar, kita selalu punya sahabat atau keluarga yang bisa membantu mengatasi kerinduan saat berjauhan dengan pasangan. Namun akan selalu ada yang kurang dan tetap tak tergantikan.

Bagi pria dan wanita yang sedang jatuh cinta, ikatan emosional dengan pasangan tercipta karena hormon oksitosin berbicara. Dilansir Time, sebuah studi menemukan bukti bahwa hormon ini juga menjadi kunci kesetiaan bagi pria. Saat diberikan semprotan oksitosin, pria yang sedang menjalani komitmen akan cenderung menciptakan jarak fisik dan mental terhadap wanita yang bukan pasangannya. Namun tanda-tanda serupa tidak ditemukan pada pria yang tidak sedang menjalin kedekatan dengan orang lain.

5. Mengapa pelukan dan ciuman jadi obat terampuh?

Saat kita bertemu kembali dengan orang yang dirindukan, mungkin hal pertama yang dilakukan adalah memeluk atau menciumnya. Mengapa dua hal ini jadi begitu penting untuk mengobati rasa kangen?

Menurut Sheril Kirshenbaum dalam bukunya The Science of Kissing: What Our Lips Are Telling Us, penelitian menunjukkan kalau kedekatan fisik seperti pelukan dan ciuman bisa memicu produksi dopamin, serotonin, dan oksitosin si hormon cinta dalam taraf maksimal. Tak heran kalau satu pelukan erat dan ciuman yang dalam bisa terasa begitu melegakan.